Nurul Aini

Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes, Kemenkes RI

email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. / This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.


Abstract

Aflatoxins are a group of natural contaminant produced by Aspergillus fungi. These mycotoxins are abundant in the area with high temperature and humidity, and have been classified as a carcinogenic agent to humans by IARC. Aflatoxin contamination could be found in food such as corn, nuts, rice, and milk. This review article suggests and discusses several methods that can be used to analyze aflatoxins in food and feed. These methods include ELISA, HPLC, and TLC Densitometry. This article was made with prior search of references from the internet and scientific journals. This review is aimed to compare the ability of these methods to analyze aflatoxin in food.

Keywords: Aflatoxin, Carcinogenic, Analysis

Pendahuluan

Aflatoksin merupakan cemaran alami yang dihasilkan oleh beberapa spesies dari fungi Aspergillus yang banyak ditemukan di daerah beriklim panas dan lembap, terutama pada suhu 27-40°C (80-104° F) dan kelembapan relatif 85%. 1 Sebagai mikotoksin, senyawa tersebut lebih stabil dan tahan selama pengolahan makanan.

Spesies Aspergillus yang paling banyak ditemukan adalah Aspergillus flavus yang memproduksi aflatoksin B, dan A. parasiticus yang menghasilkan afla- toksin B dan G. Sementara itu, aflatoksin M 1 dan M merupakan metabolit hasil hidroksilasi aflatoksin B 2 1 dan B oleh sitokrom p450 1A2 pada manusia atau he- wan yang mengonsumsi makanan yang 2 2 tercemar aflatoksin. Aflatoksin M dijumpai dalam air susu dan urine.

Indonesia terletak di daerah kha- tulistiwa yang memiliki iklim tropis dengan suhu udara dan kelembapan yang tinggi sehingga komoditas pangan dan pakan ternak sangat rentan terhadap kontaminasi aflatoksin. Jenis-jenis bahan pangan dan pakan yang rentan terhadap kontaminasi aflatoksin antara lain jagung, kacang-kacangan, beras, dan produk susu.

Sementara itu, sebuah penelitian yang dilakukan di Benin, Afrika Barat meng- konfirmasi beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa aflatoksin tidak terdeteksi pada keripik singkong. Cemaran A. flavus dapat terlihat antara lain dari pertumbuhan fungi yang berbentuk seperti serbuk berwarna hijaukeabuan atau hijau kekuningan.

Keracunan aflatoksin akibat mengonsumsi makanan yang tercemar aflatoksin dapat dicegah dengan melakukan beberapa hal, antara lain dengan menggunakan varietas tanaman prapanen yang tahan kapang toksigenik, melakukan pemilihan bahan pangan yang berkualitas baik dan tidak berkapang, serta meningkatkan manajemen bercocok tanam; memberikan pengetahuan kepada petani mengenai penanganan produk pascapanen yang baik, misalnya dengan menyimpan hasil panen pada kondisi kelembaban rendah; melakukan monitoring kadar aflatoksin pada berbagai 1 tahapan; mendidik petani dan konsumen agar dapat mengenali ciri-ciri produk yang tercemar aflatoksin agar tidak memilih dan mengkonsumsi produk yang telah tercemar.

Berdasarkan klasifikasi International Agency for Research on Cancer (IARC), aflatoksin termasuk dalam senyawa Kelompok 1, yakni senyawa yang bersifat karsinogenik pada manusia, terutama Aflatoksin B merupakan aflatoksin yang paling toksik. 1 7 Selain bersifat karsino- genik, aflatoksin juga bersifat genotoksik, hepatoksik pada manusia, serta nefrotoksik dan imunosupresif pada hewan. Batas cemaran aflatoksin dalam makanan adalah sebesar 20 ppb dan dalam susu sebesar 0,5 ppb.

Download Full Article