Yuni Rukminiati

Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Litbangkes, Kemenkes RI

email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.


Abstract The emergence of Multidrug resistance tuberculosis (MDR TB) is a failure treatment caused by Mycobacterium tuberculosis is real threat for TB control program. Second line drugs were using for person who has MDR TB. The objective of this study was to evaluate the Mycobacterium Growth Indicator Tube (MGIT) 960 System as media for testing of Mycobacterium tuberculosis susceptibility to second line drugs. Levels of high sensitivity and specificity, and time of the testing time is the parameter being assessed. Thirty MDR TB isolates were tested for susceptibility to ofloxacin, amikacin, and kanamycin by MGIT 960, and the result were compared to those obtain with proportion method on Lowenstein Jensen media, considered a reference method. Results for ofloxacin showed sensitivity 100% and specificity 75%, whereas for amikacin sensitivity 96% and specificity 100%; kanamycin sensitivity showed both specificity of 100%. The time required to obtain result was faster compared to the reference method, with an average of 9 days by the MGIT960.

Keyword : MDR-TB, Secondline drugs of Tuberculosis, MGIT 960

Pendahuluan

Setiap tahun di Indonesia ditemukan 250 ribu kasus baru tuberkulosis dengan sekitar 140 ribu kematian. Sebagian penderita tuberkulosis berada di golongan usia produktif (15-55 tahun). Tuberkulosis dapat diobati dengan efektif menggunakan obat anti tuberkulosis (OAT) lini pertama seperti isoniazid, rifampisin, ethambutol dan pirazinamid.

Jika penderita tuberkulosis tidak melakukan pengobatan dengan benar maka dapat mengakibatkan terjadinya resistensi obat. Pada tahun 1990-an terjadi Multi Drug Resistance Tuberculosis (MDR-TB) yang membutuhkan pengobatan lini kedua. MDR-TB merupakan resistensi obat terhadap setidaknya 2 obat tuberkulosis lini pertama yaitu rifampisin dan isoniazid yang merupakan dua OAT paling penting dalam pengobatan tuberkulosis.

Kecepatan dan keakuratan hasil uji kepekaan M. tuberculosis terhadap obat anti tuberkulosis lini kedua akan mem- bantu klinisi membuat keputusan dalam pemilihan terapi obat dan membantu untuk mencegah penyebaran MDR TB. Di Indonesia saat ini uji kepekaan yang di- pakai adalah dengan metode proporsi agar.

Metode ini menggunakan media Lowen- stein Jensen (LJ) yang merupakan gold standard yang sensitif tetapi mem- butuhkan waktu lama untuk pertumbuhan bakteri (umumnya 21 hari semenjak awal uji). Media cair seperti BACTEC Mycobacterium Growth Indicator Tube (MGIT) 960 mengurangi waktu pertum- buhan bakteri bila dibandingkan dengan pada media padat.

Pada Juni 2007 WHO merekomendasikan penggunaan media cair untuk kultur dan DST (Drug Susceptibility Testing) bagi negara miskin dan berkem- bang untuk menghadapi epidemik HIV-TB dan uji resistensi obat TB.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji kepekaan menggunakan media BACTEC MGIT 960 dan membandingkan hasil uji tersebut dengan uji kepekaan menggunakan media Lowenstein Jensen.

Donwload Full Article